Mungkin memang tidak ada yang namanya kebetulan. Mungkin
memang seharusnya aku di sini. Sudah seharusnya aku begini. Merasakan
ini. Begitu juga kau di sana.
Jika aku bisa, yang ingin kulakukan hanya satu. Mengembalikan waktu.
Hingga aku tak perlu terlalu jatuh. Karena aku berlalu sebelum sempat
mengecap rasa itu. Tapi, seperti yang kukatakan sebelumnya, tidak ada
yang namanya kebetulan. Pasti ada alasan dibalik terjadinya semua ini.
Mungkin aku memang tak pernah belajar. Tapi perasaan dan emosi tidak
semudah itu diatur. Bahkan kadang pikiranku juga berjalan sendiri.
Seperti kendaraan tanpa kemudi, tanpa rem yang membuatnya berhenti.
Aku sedih. Sedih sekali karena kita tak bisa bersama seperti sebelumnya.
Aku rindu sekali punya teman sepertimu. Menemaniku menjaring mimpi
untuk masa depanku. Masa depan kita. Tetapi kemudian, bukan hanya kita
berdua yang ada di dunia ini. Kapal kita karam dan aku jatuh sebelum
sekoci dipersiapkan. Aku terjun tapi parasutku bahkan belum dipasang.
Itu waktu yang pendek. Hanya lima bulan dan sungguh sudah mengubah
banyak sekali diriku. Hidupku. Dan juga isi kepalaku. Tapi yang lebih
buruk adalah kehilangan arah angin sehingga layang-layangnya tidak mau
terbang tinggi lagi. Layang-layang ini bukan hanya tidak tahu hendak
terbang kemana, melainkan kehilangan semangatnya untuk terbang. Bahkan
burung yang sayapnya patah masih lebih baik. Mereka tidak bisa terbang.
Tapi setelah sayap itu sembuh, mereka akan merdeka kembali. Tapi tidak
denganku. Aku tidak terbang bukan karena tidak bisa. Tapi tidak mau.
Entah kapan keinginan itu akan muncul lagi. Hanya Tuhan yang tahu.
Tuesday, September 10, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment