Nah, ini agak tumben saya ngepost curhatan beneran ya. Kebetulan saya lagi galau setelah sekian lama berhasil move on. -_- Kenapa sih percintaan yang menyedihkan masih menghinggapi. -_-
Tapi ya sudahlah, semuanya sudah berakhir. :) Saya hanya ingin mengatakan sesuatu yang saya ingat dari perkataan seorang teman yang kemudian saya simpulan dengan penalaran saya sendiri.
Jodoh itu apa sih sebenernya? There was time that I felt like I've met the one. Kayaknya dia jodoh saya. Tapi eh kemudian kami nggak bisa bersama. Kenapa saya berpikir dia jodoh saya? Karena kami terlewat klik. Kami terlalu completing each other. Rasanya everything was so damn perfect. Kami nggak pernah bertengkar karena diri kami sendiri. Kalo ada konflik, itu cuma karena kami ingin bersama, tapi kami terpisah 87 kilometer jauhnya.
Dari awal hubungan sih emang nggak sehat, karena saya sempat menjadi orang kedua. Siapa sih yang mau. Saya sudah berkali-kali mundur, tapi selalu nggak tegaan sama wajahnya yang tertekan setelah saya minta untuk mengakhiri semuanya. Saya juga tersiksa sih. Jadi kembali lagi kami mendekat satu sama lain. Saya pikir, ah tahan saja sebentar, toh saya akan pindah kota dan akan berpisah dengannya. setelah itu, tanpa saling melihat, semua bisa diakhiri dengan baik-baik saja.
Tapi ternyata yang terjadi berbeda, the day I moved, he cried. Jelas saya sedih sekali. Laki-laki seperti itu menangis karena nggak mau pisah sama saya. Dan even setelah saya jauh pun, tidak ada yang berubah. Sebulan sekali saya pergi ke sana hanya untuk bertemu dengannya beberapa jam. Tapi itulah bodohnya saya. Kenapa saya mau berkorban terus menerus? -_- Sepertinya saya terlalu buta ketika itu.
Hingga pada akhirnya, saya mendapat kabar bahwa ayahnya memintanya kembali pada mantannya. Maklum, mereka sudah pacaran selama lima tahun sampai akhirnya putus sekian bulan yang lalu. Dan ibu si cewek pun meneleponnya sambil menangis meminta mereka untuk memperbaiki hubungan. Yang paling membuat saya kecewa adalah dia tidak bisa menentukan pilihan. Saya seperti dirantai, lalu diletakkan di pinggir kapal laut yang berisi papan kayu seperti tempat loncat indah. Sedikit saja gerakan, saya akan tenggelam di lautan yang luas. Saya menunggu dia menyelamatkan saya. Tapi yang terjadi, kesabaran saya sudah habis dan akhirnya saya memilih untuk terjun kemudian berenang mencari daratan walaupun itu hampir tidak mungkin karena tangan saya terikat rantai, dan hanya dia yang memiliki kunci untuk membukanya.
Pada akhirnya, saya sampai pada kesimpulan, jodoh itu bukan pasangan yang tidak pernah bertengkar karena perbedaan pendapat. Tetapi, sebanyak apapun mereka bertengkar, mereka memilih untuk tetap bersama tanpa peduli dengan apapun yang orang selain mereka berdua katakan dan lakukan. Because love is the one that matters. :)
Tuesday, September 10, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment