Lelaki itu berdiri dengan santai di pinggir jalan.
Ia masih muda. Tapi guratan di wajahnya menambah umurnya beberapa tahun.
Gendongannya disampirkan di pundak. Tangan kanannya melambai-lambaikan sekotak
stroberi. “Stroberi...! Stroberi...!”, teriaknya penuh semangat.
Aku sedang dalam perjalanan pulang ketika itu.
“Hmm... enaknya mau ngasi oleh – oleh apa ya buat orang rumah?”, pikirku. Waktu
aku lihat penjual itu, aku langsung menepikan mioku. “Berapa satu, Mas?”,
tanyaku. Dia bilang harganya delapan ribu rupiah untuk sekotak sedang stroberi.
Mahal. Biasanya aku dapat tiga kotak dengan hanya sepuluh ribu rupiah.
Jelas saja aku tawar. “10 ribu dapet dua ya?”
tanyaku. Tanpa mengiyakan, ia langsung mengambil tas plastik dan membungkuskan
dua kotak stroberi untukku dan akupun membayar.
Kemudian kulihat dia melambai – lambaikan uang
yang kuberikan padanya ke keranjang gendongannya yang berisi beberapa kotak
stroberi sambil berkata “Garus, garus...” aku agak terkejut. Ternyata aku
pembeli pertamanya hari itu. Betapa sulitnya menghasilkan uang 10 ribu rupiah
dalam sehari. Lelaki itu, dia berdiri sejak pagi dan berteriak-teriak
menjajakan stroberinya. Sementara orang lain mungkin dengan gampang
menghambur-hamburkan uang demi kesenangan pribadi. Kalau aku mengingat si
penjual stroberi itu, rasanya aku ingin mengunci dompetku rapat-rapat dan
berusaha untuk membelanjakan isinya dengan sangat bijaksana.
Herma Yanthi
Tabanan, 2 Agustus 2010
20.29 WITA


0 comments:
Post a Comment